<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Bagazpirlo&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://bagazpirlo.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bagazpirlo.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 20 Jan 2010 08:25:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='bagazpirlo.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Bagazpirlo&#039;s Blog</title>
		<link>http://bagazpirlo.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://bagazpirlo.wordpress.com/osd.xml" title="Bagazpirlo&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://bagazpirlo.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Suami Berhati Malaikat</title>
		<link>http://bagazpirlo.wordpress.com/2010/01/20/suami-berhati-malaikat/</link>
		<comments>http://bagazpirlo.wordpress.com/2010/01/20/suami-berhati-malaikat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 08:25:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bagazpirlo</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>
		<category><![CDATA[cinta sampai mati]]></category>
		<category><![CDATA[suami hebat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bagazpirlo.wordpress.com/2010/01/20/suami-berhati-malaikat/</guid>
		<description><![CDATA[Pratomo Suyatno, siapa yang tidak kenal lelaki bersahaja ini? Namanya sering muncul di koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan. Dialah salah seorang dibalik kemajuan industri reksadana di Indonesia dan juga seorang pemimpin dari sebuah perusahaan investasi reksadana besar di negeri ini. Dalam posisinya seperti sekarang ini, boleh jadi kita beranggapan bahwa pria ini pasti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bagazpirlo.wordpress.com&amp;blog=10752884&amp;post=60&amp;subd=bagazpirlo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pratomo Suyatno, siapa yang tidak kenal lelaki bersahaja ini? Namanya sering muncul di koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan.<br />
Dialah salah seorang dibalik kemajuan industri reksadana di Indonesia dan juga seorang pemimpin dari sebuah perusahaan investasi reksadana besar di negeri ini.</p>
<p>Dalam posisinya seperti sekarang ini, boleh jadi kita beranggapan bahwa pria ini pasti super sibuk dengan segudang jadwal padat. Tapi dalam note ini saya tidak akan menyoroti kesuksesan beliau sebagai eksekutif. Karena ada sisi kesehariannya yang luar biasa!!!!</p>
<p>Usianya sudah tidak terbilang muda lagi, 60 tahun. Orang bilang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, tapi Pak Suyatno masih bersemangat merawat istrinya yang sedang sakit. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Dikaruniai 4 orang anak.</p>
<p>Dari sinilah awal cobaan itu menerpa, saat istrinya melahirkan anak yang ke empat. tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.</p>
<p>Setiap hari sebelum berangkat kerja Pak Suyatno sendirian memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke tempat tidur. Dia letakkan istrinya di depan TV agar istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya sudah tidak dapat bicara tapi selalu terlihat senyum. Untunglah tempat berkantor Pak Suyatno tidak terlalu jauh dari kediamannya, sehingga siang hari dapat pulang untuk menyuapi istrinya makan siang.</p>
<p>Sorenya adalah jadwal memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa menanggapi lewat tatapan matanya, namun begitu bagi Pak Suyatno sudah cukup menyenangkan. Bahkan terkadang diselingi dengan menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan penuh kesabaran dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka. Sekarang anak- anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg masih kuliah.</p>
<p>Pada suatu hari…saat seluruh anaknya berkumpul di rumah menjenguk ibunya&#8211; karena setelah anak-anak mereka menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing- &#8211; Pak Suyatno memutuskan dirinyalah yang merawat ibu mereka karena yang dia inginkan hanya satu &#8216;agar semua anaknya dapat berhasil&#8217;.</p>
<p>Dengan kalimat yang cukup hati-hati, anak yang sulung berkata:</p>
<p>“Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu.&#8221; Sambil air mata si sulung berlinang.</p>
<p>&#8220;Sudah keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini, kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”. Si Sulung melanjutkan permohonannya.</p>
<p>”Anak-anakku. ..Jikalau perkimpoian dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi, tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di sampingku itu sudah lebih dari cukup,dia telah melahirkan kalian….*sejenak kerongkongannya tersekat*… kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat dihargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini ?? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya seperti sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit.&#8221; Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya</p>
<p>Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno, merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu……</p>
<p>Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa-apa&#8230;.disaat itulah meledak tangisnya dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru.</p>
<p>Disitulah Pak Suyatno bercerita : “Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkimpoiannya, tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 anak yang lucu-lucu..Sekarang saat dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama… dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit&#8230;” Sambil menangis</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bagazpirlo.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bagazpirlo.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bagazpirlo.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bagazpirlo.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bagazpirlo.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bagazpirlo.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bagazpirlo.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bagazpirlo.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bagazpirlo.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bagazpirlo.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bagazpirlo.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bagazpirlo.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bagazpirlo.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bagazpirlo.wordpress.com/60/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bagazpirlo.wordpress.com&amp;blog=10752884&amp;post=60&amp;subd=bagazpirlo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bagazpirlo.wordpress.com/2010/01/20/suami-berhati-malaikat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3edaaa81652528dadf4ec3e8cbf57790?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bagazpirlo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tubuh Mungil Itu Mengharap SURGA</title>
		<link>http://bagazpirlo.wordpress.com/2010/01/20/tubuh-mungil-itu-mengharap-surga/</link>
		<comments>http://bagazpirlo.wordpress.com/2010/01/20/tubuh-mungil-itu-mengharap-surga/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 08:12:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bagazpirlo</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>
		<category><![CDATA[anak kecil]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bagazpirlo.wordpress.com/2010/01/20/tubuh-mungil-itu-mengharap-surga/</guid>
		<description><![CDATA[Tubuh mungil itupun terjerembab jatuh setelah didorong bapaknya yang sedang kesetanan. Tidak puas melihat anaknya menahan tangis, tongkat sapu pun dilayangkan hingga mengenai pantat anak kecil yang baru 6 tahun itu. Tiga pukulan yang keras akhirnya membuat tangis anak itu menggelegar. Tubuhnya terguncang menahan sakit dan tangisnya terdengar pilu. Setelah puas melihat anaknya menangis, sang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bagazpirlo.wordpress.com&amp;blog=10752884&amp;post=59&amp;subd=bagazpirlo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tubuh mungil itupun terjerembab jatuh setelah didorong bapaknya yang sedang kesetanan. Tidak puas melihat anaknya menahan tangis, tongkat sapu pun dilayangkan hingga mengenai pantat anak kecil yang baru 6 tahun itu. Tiga pukulan yang keras akhirnya membuat tangis anak itu menggelegar. Tubuhnya terguncang menahan sakit dan tangisnya terdengar pilu. Setelah puas melihat anaknya menangis, sang bapakpun<br />
berkata dengan kasar:<br />
”Kenapa Ilman mencuri uang bapak?<br />
Untuk apa uang 50 ribu itu? Bukankah selama ini Ilman diberi sehari 5 ribu untuk jajan di sekolah? Sementara anak lain tidak ada yang diberikan sebanyak itu.<br />
Setiap tahun Ilman diberikan baju, tas, sepatu dan semua kebutuhan. Bapak bekerja siang dan malam untukmu Man!!!!”</p>
<p>Anak ini hanya bisa menangis tersedu. Dia tidak mampu menjawab pertanyaan dan kemarahan bapak yang dicintainya. Dia hanya bisa merintih menahan sakit di bagian kepala yang baru saja terbentur. Suasanapun berangsur mereda dan menjadi sunyi. Namun, tiba-tiba saja dari ruang tengah berdering telepon. Sang bapak yang sudah terlihat capek ini perlahan mendekati gagang telepon. Dikejauhan terdengar suara perempuan. Ternyata, ia adalah ibu guru anak ini. Setelah basa-basi sebentar bu gurupun bercerita,</p>
<p>”Bagaimana si Ilman pak?</p>
<p>Maaf saya menelpon bapak karena ada hal penting yang perlu bapak ketahui. Akhir-akhir ini si Ilman terlihat murung. Kira-kira sudah satu minggu ini. Tadi pagi dia datang menemui saya. Dia mengemukakan kebingungannya. Ia mengaku telah mencuri uang bapak. Dan saya lihat uang yang dicuri 50 ribu rupiah. Dia bertanya apakah itu berdosa. Saya mengatakan bahwa itu dilarang agama. Kemudian dia mengeluarkan uang sebanyak 30 ribu rupiah dari tasnya. Sayapun kaget dan bertanya apakah itu hasil dari mencuri. Dia menggelengkan kepala dan mengatakan tidak. Uang itu dikumpulkan dari uang jajan yang bapak berikan setiap hari. Jadi, selama ini dia tidak jajan selama seminggu.</p>
<p>Yang membuat saya iba dan sedih ketika Ilman bertanya apakah uang yang ia kumpulkan ini cukup untuk pergi ke Surga? Saya tanya kenapa? Katanya ia ingin bertemu ibunya yang sekarang di surga. Ia kangen sama ibu Pak. Ia ingin seperti teman-temanya yang masih bisa berkumpul dengan kedua orang tuanya. Ia kangen sekali sama ibu Pak. Kata Ilman ibunya telah menghilang setelah ketemu terakhir di rumah sakit. Maaf&#8230;..”.</p>
<p>Telpon itupun terputus.. Tidak kuat menahan tangis sang bapak berlari menuju Tubuh mungil itu. Tubuh kecil itupun diangkat dengan penuh kasih. Namun takdir berbicara lain, anak itu telah menyusul ibunya di surga&#8230;.</p>
<p>Sahabat Kaskuser yang dirahmati Allah,<br />
Anak adalah titipan. Ia adalah buah dari cinta kasih bersama pasangan kita. Allah SWT telah menganugerahkan anak itu untuk dibesarkan, dipelihara, dirawat, diajarkan kasih sayang, dididik agar taat kepada orang tua dan agamanya. Anak jugalah yang bisa mengangkat derajat orang tuanya di surga. Rasulullah saw bersabda:</p>
<p>“Sesungguhnya Allah SWT akan mengankat derajat seorang hamba yang shalih di surga. Kelak ia akan berkata, ’’Wahai Rabbku, bagaimana hal ini bisa terjadi padaku?’ . Dijawab,’karena permohonan ampunan anakmu untukmu”</p>
<p>Sahabat Kaskuser,<br />
Sudahkah kita memperlakukan anak kita dengan baik? Sudahkah kita mengetahui harapan-harapannya? Impiannya? Keinginannya? Dan…yang terbaik untuknya? Ingatlah, anak yang shaleh adalah satu-satunya orang yang masih bisa berkirim kebaikan pada kita, disaat semua pintu amal telah terputus. Saat kematian bersama kita, ketika di alam barzah, menunggu hari Perhitungan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bagazpirlo.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bagazpirlo.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bagazpirlo.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bagazpirlo.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bagazpirlo.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bagazpirlo.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bagazpirlo.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bagazpirlo.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bagazpirlo.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bagazpirlo.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bagazpirlo.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bagazpirlo.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bagazpirlo.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bagazpirlo.wordpress.com/59/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bagazpirlo.wordpress.com&amp;blog=10752884&amp;post=59&amp;subd=bagazpirlo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bagazpirlo.wordpress.com/2010/01/20/tubuh-mungil-itu-mengharap-surga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3edaaa81652528dadf4ec3e8cbf57790?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bagazpirlo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sendal yang Hilang [Pelajaran Hidup]</title>
		<link>http://bagazpirlo.wordpress.com/2010/01/20/sendal-yang-hilang-pelajaran-hidup/</link>
		<comments>http://bagazpirlo.wordpress.com/2010/01/20/sendal-yang-hilang-pelajaran-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 07:41:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bagazpirlo</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>
		<category><![CDATA[kaki]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sandal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bagazpirlo.wordpress.com/2010/01/20/sendal-yang-hilang-pelajaran-hidup/</guid>
		<description><![CDATA[Aku duduk sambil tersungut di pojok beranda masjid. Hatiku geram. Sesekali gemerutuk gigi-gigi geraham yang bertubrukan menggoyang-goyang pipiku. Hembusan nafas antara putus asa dan rasa marah kulempar berulangkali. Kalau saja bukan karena di masjid, ingin segera kutumpahkan segala caci maki dan kejengkelanku sampai aku puas. Puas menumpahkan emosi kepada siapa yang telah menzalimi diriku. Pandanganku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bagazpirlo.wordpress.com&amp;blog=10752884&amp;post=58&amp;subd=bagazpirlo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku duduk sambil tersungut di pojok beranda masjid. Hatiku geram. Sesekali gemerutuk gigi-gigi geraham yang bertubrukan menggoyang-goyang pipiku. Hembusan nafas antara putus asa dan rasa marah kulempar berulangkali. Kalau saja bukan karena di masjid, ingin segera kutumpahkan segala caci maki dan kejengkelanku sampai aku puas. Puas menumpahkan emosi kepada siapa yang telah menzalimi diriku.</p>
<p>Pandanganku menyapu tangga masjid tua itu sekali lagi. Dari satu pojok ke pojok yang lain. Dari satu tangga ke tangga yang lain. Bahkan rak sepatu dan sandal di sisi tempat penitipan barang telah aku periksa berungkali. Tapi hasilnya nihil. Akhirnya aku menerima kehilangan itu dengan terpaksa. Terpaksa menahan marah,jengkel, kecewa di ”Rumah” Tuhan. Terpaksa pula kehilangan kesabaran karena dizalimi di ”Rumah” Tuhan.</p>
<p>Tiba-tiba entah dari mana datangnya, seorang kakek tua berjubah putih telah duduk persis di samping kananku. Aku setengah takjub. Belum hilang rasa jengkelku karena kecurian, kedatangan pria yang seolah misterius ini menambah kalut mesin beripikir di kepalaku.</p>
<p>Meskipun begitu, sejenak aku terhibur. Ia tersenyum amat berwibawa. wajahnya berseri. Janggutnya yang lebat rapih menyihirku. Ia menatapku<br />
dalam menghujam.</p>
<p>”Apa yang Engkau risaukan, anak muda?”, sapanya. Suaranya khas sekali. Berat dan kharismatik.</p>
<p>”Bapak, siapa?”, kujawab sapaannya dengan balik bertanya.</p>
<p>”Sama seperti kamu, anak muda. Hamba Tuhan.<br />
Mengapa wajahmu kelihatan marah dan tertekan?”, ia kembali bertanya<br />
tentang perasaanku.</p>
<p>”Saya kehilangan sandal. Sandal seharga duaratus<br />
limapuluh ribu. Baru saya pakai sakali ini”, jawab saya datar tidak<br />
seperti lahar kejengkelan yang membara sebelum bertemu laki-laki sepuh<br />
ini.</p>
<p>”Cuma sandal?”, ia balik bertanya mendengara jawaban saya.</p>
<p>”Ya, memang cuma sandal. Tapi harganya cukup mahal”, kilahku.<br />
”Duaratus limapuluh ribu, itu harga yang murah.<br />
Belum sebanding”, kali ini pernyataannya lebih ditekan. Perasaanku ikut<br />
tertekan.</p>
<p>Sejurus, lelaki sepuh berjubah putih itu berdiri. Tangannya diulurkan ke arahku. Anggukan kepalnya memberi isyarat, agar aku mengikuti langkahnya. Aku menurut saja.<br />
”Mari saya carikan obat”.</p>
<p>Obat? Aku tak butuh obat pikirku. Kalaupun yang kubutuhkan sekarang adalah sandalku kembali. Aku juga butuh tahu siapa orang yang telah mencurinya. Kalau perlu aku akan menghajarnya karena telah mengambil milik orang yang bukan haknya.</p>
<p>Aku terus mengikutinya hingga sampai di suatu tempat yang mirip pasar tradisional tapi lengang. Aku dibawanya mampir ke sebuah toko. Susana di sekitar toko itu pun sepi. Hanya ada satu dua orang saja yang melintas dan melihat-lihat barang yang dijual.</p>
<p>Kesepiannya mengantarku seperti tengah berada di negeri asing. Suasana<br />
dan orang-orang yang kujumpai asing. Orang yang mengajakku pun asing. Lalu, Aku ditunjukkan pada pemilik toko yang juga asing. Aku kemudian<br />
tahu, ia menjual sepatu dan sandal-sandal bekas.</p>
<p>”Anak muda, singgahlah sebentar dan tumpahkan kekesalanmu pada pemilik toko ini. Mudah-mudahan hatimu ridha atas sandalmu. Sandalmu belum sebanding”. Aku belum tetap mengerti maksud ucapan ”belum sabanding” lelaki sepuh itu. Aku ingin menanyakannya, tetapi ia keburu menghilang. Entah kemana.</p>
<p>Tapak kakiku terasa panasperih. Kerikil dan tanah kering yang terbakar terik matahari, leluasa menusuk-nusuk hingga ke ujung jari kakiku yang tak lagi bersandal. Kakiku tersiksa oleh keculasan si pencuri. Dia telah memecah-mecah tumitnya hingga menyisakan garis-garis hitam. Jelek dan kusam. Yang kumaki kini bukan lagi si pencuri sandal, tapi juga kuratapi nasib kedua kakiku.</p>
<p>Kuhampiri lebih dekat toko itu. Lebih dekat, kulihat sosok laki-laki bersurban duduk bersila di atas dipan. Gamisnya menutup tubuhnya hingga kedua kakinyapun tersembunyi. Melihat kedatanganku dan mendekat, laki-laki itu tersenyum dan menyambut hangat. Tapi sedikitpun ia tidak bergeser dari duduknya. Hanya mempersilahkan aku melihat-lihat barang bekasnya.</p>
<p>”Silahkan anak muda. Barangkali ada yang berkenan di hatimu”, laki-laki itu menyapa dan menawarkan dagangannya. Aku merasa ada baiknya memilih sepasang.</p>
<p>” Terima kasih. Kalau bukan karena pencuri sialan itu, mungkin saya tidak akan sampai di sini”. Aku mulai memaki lagi nasib buruk beberapa saat lalu. Tanpa terasa keluhan atas semua kesialanku tertumpah. Kumaki habis pencuri sandal mahalku itu seolah ia tepat di depanku. Suaraku geram, mataku jalang dan lidah kemarahanku menyambar-nyambar dinding caci maki dan menumpahkannya sebanyak mungkin sampai aku capek sendiri.</p>
<p>”Inna lillahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Sebegitu marah dan kecewanyakah Engkau anak muda?”, tiba-tiba laki-laki pemilik toko itu bicara. Segera Aku sepenuhnya sadar, bahwa pemilik toko itu menangkap semua emosi yang kutumpahkan. Umpat, caci maki dan seribu kata keji mungkin ia tangkap pula seluruhnya. Menatap matanya, akumalu. Mendengar responnya, aku membisu.</p>
<p>”Marah dan kata-kata kasarmu tidak sebanding dengan sandalmu yang dicuri. Jika si pencuri itu hadir di matamu, luka hatinya atas cacianmu tidak sepadan dengan luka memar di kakimu itu. Padahal kamu belum tahu alasan mengapa ia mencuri”, pemilik toko itu menghujam ulu hatiku dengan ucapannya yang tajam lagi datar. Aku terperangah dengan muka memerah. Kini aku jadi bulan-bulanan atas mulutku sendiri.</p>
<p>Laki-laki itu melanjutkan, ” padahal bisa jadi ia mencuri karena terpaksa, bukan semata-mata karena kebiasaannya mencuri.Mungkin karena lapar, anak dan isterinya juga kelaparan atau karena satu dan lain hal sehingga memaksanya mengambil milik orang lain”.</p>
<p>”Tapi, mungkin juga karena memang orang itu terbiasa mencuri, bukan? Bahkan dilakukannya di masjid, Rumah Tuhan”,Aku mencoba membela diri.</p>
<p>”Mungkin juga. Bahkan karena nekatnya, di masjid pun ia lakukan. Namun, sikapmu menerima situasi demikian tidak pantas Anak Muda. Caci dan makianmu tidak mengembalikan sandalmu yang hilang,sementara mulutmu telah tidak sadar kau kotori dengan dosa oleh cacianmu itu”.</p>
<p>Ulu hatiku semakin sakit. Aku yang tengah dirundung sial terus terpojok. Aku membatin. Tapi, kata-kata penjaga toko itu perlahan mempengaruhi kesadaranku. Ego dan amarahku hampir redup disiram bijak kata-katanya, meskipun letupan-letupan dendam kesumat kecil masih timbul tenggelam di ujung nafsu amarah.</p>
<p>”Sandal itu cukup mahal bagi saya. Dua ratus lima puluh ribu hampir seperdelapan dari gaji saya setiap bulan untuk harganya. Lagi pula, baru sekali ini saya pakai. Wajar kan jika saya kecewa dan marah?”, Aku masih mencoba bertahan di antara sisa-sisa ke-Aku-an yang kian padam.</p>
<p>Laki-laki pemilik toko itu hanya tersenyum mendengar pembelaanku. Kepalanya menggeleng-geleng ritmis. Alisnya yang bertaut bergerak ke atas mengikuti gerak tubuhnya yang bergeser mendekati tepi dipan.</p>
<p>“ Engkau masih beruntung, Anak muda. Karena cuma sandalmu yang hilang. Harga dirimu tidak koyak, rasa malumu tetap terjaga dan kepercayaan dirimu masih utuh. Kamu masih patut bersyukur sebab masih dapat berjalan tegak meskipun tanpa sandal. Kamu tidak pantas menjadi laki-laki rapuh dihantam marah hanya karena kehilangan harga dua ratus lima puluh ribu saja. Lihatlah keadaanku”.</p>
<p>Laki-laki itu menyingkap ujung bawah gamisnya. Aku terkesiap. Ya Tuhan, dua kakinya buntung sebatas pergelangan. Aku merinding disergap ngeri. Tenggorokanku kering kerontang seketika. Inikah arti dari ucapan ”belum sebanding” orang sepuh beberapa saat lalu?</p>
<p>”Aku kehilangan dua pergelangan kaki, Anak muda. Aku juga tidak tahu berapa harga kedua kaki itu. Yang kuingat bahwa kecelakaan kerja yang kualami lima tahun lalu merenggut keduanya. Aku masih bersyukur nyawaku selamat. Allah masih menyayangiku. Lagi pula Aku tidak pernah membayar untuk sepasang kaki itu. Gratis. Kecelakaan itu adalah sunnatullah bahwa Yang Maha Memberi, meminta kaki yang dititipkan padaku dikembalikan pada-Nya. Kamu masih lebih beruntung berlipat-lipat. Allah hanya meminta sandalmu, bukan kakimu. Lihatlah, kakimu masih menapak dengan jemarinya yang masih utuh”.</p>
<p>Aku membatu dalam kebisuan. Hancur lebur sudah kemarahan yang sejak tadi kumanjakan. Gemuruh dadaku berubah warna dari merah membara menjadi putih kebiruan. Sejuk, lumer dan dan akhirnya kerdil.</p>
<p>” Anak muda, jangan pernah berpikir absolut bahwa apa yang selama ini kita genggam adalah milik kita. Semua hal yang Kau pandang sebagai kekayaan, apapun wujudnya, hakikatnya hanya titipan. Manusia hanya sebatas diberi hak untuk memanfaatkan dalam kebaikan.Bukan memiliki sekehendak hati, apalagi dengan membabi buta seperti orang yang lupa bahwa dunai ini pun akan ditinggalkannya. Kalau hanya sekedar sandal saja Engkau sudah begitu takabur, bagaimana dengan kehidupanmu yang kelak juga akan diambil-Nya?”.</p>
<p>Habis sudah diriku. Habis sudah egoku. Air hangat meleleh dari kedua kelopak mataku. Dadaku sesak oleh luapan tangis yang kutahan sedapat mungkin. Tapi guncangannya tak kuat kutahan. Sampai kemudian aku sadar sesadar sadarnya.<br />
”Ayah, bangun Yah, sudah jam empat”.</p>
<p>Antara jaga dan tidur aku merasakan sentuhanlembut di pundaku. Suara yang amat kukenal membangunkanku dari selimut malam dan menghentikan dengkurnya. Aku bangun dengan kelopak mata yang basah. Aku menangis dalam tidur, tapi air mata dan penggalan mimpi terbawa di alam jaga. Aku benar-benar hanyut. Jauh, jauh sekali. Ya Allah mimpi apa itu? Apakah Engkau tengah menegurku sebab beberapa minggu lalu Aku sempat mengeluh lama karena kehilangan telepon genggam untuk yang kedua kali?</p>
<p>Alhamdulillah, Aku masih hidup dan masih diberi kesempatan menghirup udara pagi. Ya Allah, rizki yang kau beri memang datang dan pergi silih berganti. Ampuni Aku Ya Rabb  	</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bagazpirlo.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bagazpirlo.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bagazpirlo.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bagazpirlo.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bagazpirlo.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bagazpirlo.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bagazpirlo.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bagazpirlo.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bagazpirlo.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bagazpirlo.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bagazpirlo.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bagazpirlo.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bagazpirlo.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bagazpirlo.wordpress.com/58/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bagazpirlo.wordpress.com&amp;blog=10752884&amp;post=58&amp;subd=bagazpirlo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bagazpirlo.wordpress.com/2010/01/20/sendal-yang-hilang-pelajaran-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3edaaa81652528dadf4ec3e8cbf57790?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bagazpirlo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah sebatang bambu</title>
		<link>http://bagazpirlo.wordpress.com/2010/01/20/kisah-sebatang-bambu/</link>
		<comments>http://bagazpirlo.wordpress.com/2010/01/20/kisah-sebatang-bambu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 07:06:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bagazpirlo</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>
		<category><![CDATA[bambu]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bagazpirlo.wordpress.com/2010/01/20/kisah-sebatang-bambu/</guid>
		<description><![CDATA[Sebatang bambu yang indah tumbuh di halaman rumah seorang petani. Batang bambu ini tumbuh tinggi menjulang di antara batang-batang bamboo lainnya. Suatu hari datanglah sang petani yang empunya pohon bambu itu. Dia berkata kepada batang bambu,” Wahai bambu, maukah engkau kupakai untuk menjadi pipa saluran air, yang sangat berguna untuk mengairi sawahku?” Batang bambu menjawabnya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bagazpirlo.wordpress.com&amp;blog=10752884&amp;post=57&amp;subd=bagazpirlo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebatang bambu yang indah tumbuh di halaman rumah seorang petani. Batang bambu ini tumbuh tinggi menjulang di antara batang-batang bamboo lainnya. Suatu hari datanglah sang petani yang empunya pohon bambu itu. Dia berkata kepada batang bambu,” Wahai bambu, maukah engkau kupakai untuk menjadi pipa saluran air, yang sangat berguna untuk mengairi sawahku?”</p>
<p>Batang bambu menjawabnya, “Oh tentu aku mau bila dapat berguna bagi engkau, Tuan. Tapi ceritakan apa yang akan kau lakukan untuk membuatku menjadi pipa saluran air itu.” Sang petani menjawab, Pertama, aku akan menebangmu untuk memisahkan engkau dari rumpunmu yang indah itu. Lalu aku akan membuang cabang-cabangmu yang dapat melukai orang yang memegangmu. Setelah itu aku akan membelah-belah engkau sesuai dengan keperluanku. Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam batangmu, supaya air dapat mengalir dengan lancar.<br />
Apabila aku sudah selesai dengan pekerjaanku, engkau akan menjadi pipa<br />
yang akan mengalirkan air untuk mengairi sawahku sehingga padi yang<br />
kutanam dapat tumbuh dengan subur.”<br />
Mendengar hal ini, batang bambu lama terdiam….., kemudian dia berkata kepada petani, “Tuan, tentu aku akan merasa sangat sakit ketika engkau menebangku. Juga pasti akan sakit ketika engkau membuang cabang-cabangku, bahkan lebih sakit lagi ketika engkau membelah-belah<br />
batangku yang indah ini, dan pasti tak tertahankan ketika engkau mengorek-ngorek bagian dalam tubuhku untuk membuang sekat-sekat penghalang itu. Apakah aku akan kuat melalui semua proses itu, Tuan?”<br />
Petani menjawab batang bambu itu, ” Wahai bambu, engkau pasti kuat melalui semua itu, karena aku memilihmu justru karena engkau yang paling kuat dari semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah.”</p>
<p>Akhirnya batang bambu itu menyerah, “Baiklah, Tuan. Aku ingin sekali berguna bagimu. Ini aku, tebanglah aku, perbuatlah sesuai dengan yang kau kehendaki.”<br />
Setelah petani selesai dengan pekerjaannya, batang bambu indah yang dulu hanya menjadi penghias halaman rumah petani, kini telah berubah menjadi pipa saluran air yang mengairi sawahnya sehingga padi dapat tumbuh dengan subur dan berbuah banyak.<br />
Pernahkah kita berpikir bahwa dengan masalah yang datang silih berganti tak habis-habisnya, mungkin Allah sedang memproses kita untuk menjadi indah di hadapan-Nya? Sama seperti batang bambu itu, kita sedang ditempa, Allah sedang membuat kita sempurna untuk di pakai<br />
menjadi penyalur berkat. Dia sedang membuang kesombongan dan segala sifat kita yang tak berkenan bagi-Nya. Tapi jangan kuatir, kita pasti kuat karena Allah tak akan memberikan beban yang tak mampu kita pikul. Jadi maukah kita berserah pada kehendak Allah, membiarkan Dia bebas berkarya di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna bagi-Nya?<br />
Seperti batang bambu itu, mari kita berkata, ” Ini aku ya Allah, perbuatlah sesuai dengan yang Kau kehendaki.”</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bagazpirlo.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bagazpirlo.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bagazpirlo.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bagazpirlo.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bagazpirlo.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bagazpirlo.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bagazpirlo.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bagazpirlo.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bagazpirlo.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bagazpirlo.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bagazpirlo.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bagazpirlo.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bagazpirlo.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bagazpirlo.wordpress.com/57/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bagazpirlo.wordpress.com&amp;blog=10752884&amp;post=57&amp;subd=bagazpirlo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bagazpirlo.wordpress.com/2010/01/20/kisah-sebatang-bambu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3edaaa81652528dadf4ec3e8cbf57790?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bagazpirlo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DOA UNTUK SEKERANJANG TEMPE</title>
		<link>http://bagazpirlo.wordpress.com/2010/01/20/doa-untuk-sekeranjang-tempe/</link>
		<comments>http://bagazpirlo.wordpress.com/2010/01/20/doa-untuk-sekeranjang-tempe/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 07:00:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bagazpirlo</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[pasar]]></category>
		<category><![CDATA[tempe]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bagazpirlo.wordpress.com/2010/01/20/doa-untuk-sekeranjang-tempe/</guid>
		<description><![CDATA[Di Karangayu, sebuah desa di Kendal, Jawa Tengah, hiduplah seorang ibu penjual tempe. Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lalukan sebagai penyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang. “Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya…” demikian dia selalu memaknai hidupnya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bagazpirlo.wordpress.com&amp;blog=10752884&amp;post=56&amp;subd=bagazpirlo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di Karangayu, sebuah desa di Kendal, Jawa Tengah, hiduplah seorang ibu penjual tempe. Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lalukan sebagai penyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang. “Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya…” demikian dia selalu memaknai hidupnya.</p>
<p>Suatu pagi, setelah salat subuh, dia pun berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat tempe, dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atas meja panjang. Tapi, deg! dadanya gemuruh. Tempe yang akan dia jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang, sebagian berderai, belum disatukan ikatan-ikatan putih kapas dari peragian. Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi. Tubuhnya lemas. Dia bayangkan, hari ini pasti dia tidak akan mendapatkan uang, untuk makan, dan modal membeli kacang, yang akan dia olah kembali menjadi tempe.</p>
<p>Di tengah putus asa, terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil. Maka, di tengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca doa. “Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina ini. Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe. Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku…” Dalam hati, dia yakin, Allah akan mengabulkan doanya.</p>
<p>Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe. Dia rasakan hangat yang menjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung. Dadanya gemuruh. Dan pelan, dia buka daun pembungkus tempe. Dan… dia kecewa. Tempe itu masih belum juga berubah. Kacangnya belum semua menyatu oleh kapas-kapas ragi putih. Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri. Dia yakin, Allah pasti sedang “memproses” doanya. Dan tempe itu pasti akan jadi. Dia yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah seperti dia. Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang, dia berdoa lagi. “Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu. Engkau maha tahu, bahwa tak ada yang bisa aku lakukan selain berjualan tempe. Karena itu ya Allah, jadikanlah.</p>
<p>Bantulah aku, kabulkan doaku…”</p>
<p>Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus tempe. Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan berdebar, dia intip dari daun itu, dan… belum jadi. Kacang itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang tersebut. “Keajaiban Tuhan akan datang… pasti,” yakinnya.</p>
<p>Dia pun berjalan ke pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin, “tangan” Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas tempe-tempenya. Berkali-kali dia dia memanjatkan doa… berkali-kali dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya.</p>
<p>Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang-keranjang itu. “Pasti sekarang telah jadi tempe!” batinnya. Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan. Dan… dia terlonjak. Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi.</p>
<p>Kecewa, aitmata menitiki keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan? Kenapa tempe ini tidak jadi? Kenapa Tuhan begitu tidak adil? Apakah Dia ingin aku menderita? Apa salahku? Demikian batinnya berkecamuk. Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yang telah dia sediakan. Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya itu. Dan dia tiba-tiba merasa lapar… merasa sendirian. Tuhan telah meninggalkan aku, batinnya. Airmatanya kian menitik. Terbayang esok dia tak dapat berjualan… esok dia pun tak akan dapat makan. Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan “teman-temannya” sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai berkemas. Dianggukinya mereka yang pamit, karena tempenya telah laku. Kesedihannya mulai memuncak. Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian ini. Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu terasa berat…</p>
<p>Di tengah kesedihan itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya. Dia memalingkan wajah, seorang perempuan cantik, paro baya, tengah tersenyum, memandangnya. “Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi? Capek saya sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya. Ibu punya??”</p>
<p>Penjual tempe itu bengong. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat. Tanpa menjawab pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menadahkan tangan. “Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi. Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi, jangan jadikan tempe…” Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi. “jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe…”</p>
<p>“Bagaimana Bu? Apa ibu menjual tempe setengah jadi?” tanya perempuan itu lagi.</p>
<p>Kepanikan melandanya lagi. “Duh Gusti… bagaimana ini? Tolonglah ya Allah, jangan jadikan tempe ya?” ucapnya berkali-kali. Dan dengan gemetar, dia buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu. Dan apa yang dia lihat, pembaca?? Di balik daun yang hangat itu, dia lihat tempe yang masih sama. Belum jadi! “Alhamdulillah!” pekiknya, tanpa sadar. Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli.<br />
Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. “Kok Ibu aneh ya, mencari tempe kok yang belum jadi?”</p>
<p>“Oohh, bukan begitu, Bu. Anak saya, si Sulhanuddin, yang kuliah S2 di Australia ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi, saat saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan. Ohh ya, jadi semuanya berapa, Bu?”</p>
<p>Pembaca, ini kisah yang biasa bukan? Dalam kehidupan sehari-hari, kita acap berdoa, dan “memaksakan” Allah memberikan apa yang menurut kita paling cocok untuk kita. Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa diabaikan, merasa kecewa. padahal, Allah paling tahu apa yang paling cocok untuk kita. Bahwa semua rencananya adalah sempurna.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bagazpirlo.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bagazpirlo.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bagazpirlo.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bagazpirlo.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bagazpirlo.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bagazpirlo.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bagazpirlo.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bagazpirlo.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bagazpirlo.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bagazpirlo.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bagazpirlo.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bagazpirlo.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bagazpirlo.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bagazpirlo.wordpress.com/56/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bagazpirlo.wordpress.com&amp;blog=10752884&amp;post=56&amp;subd=bagazpirlo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bagazpirlo.wordpress.com/2010/01/20/doa-untuk-sekeranjang-tempe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3edaaa81652528dadf4ec3e8cbf57790?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bagazpirlo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anak mencoret Mobil ayahnya</title>
		<link>http://bagazpirlo.wordpress.com/2010/01/20/anak-mencoret-mobil-ayahnya/</link>
		<comments>http://bagazpirlo.wordpress.com/2010/01/20/anak-mencoret-mobil-ayahnya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 06:44:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bagazpirlo</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[tangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bagazpirlo.wordpress.com/2010/01/20/anak-mencoret-mobil-ayahnya/</guid>
		<description><![CDATA[Sepasang suami isteri – seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bagazpirlo.wordpress.com&amp;blog=10752884&amp;post=55&amp;subd=bagazpirlo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sepasang suami isteri – seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.</p>
<p>Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan mobil1.jpg, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.</p>
<p>Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja motor.jpgkarena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.</p>
<p>Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!” …. Pembantu rumah yang tersentak engan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah adam ketakutan lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘ Saya tidak tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.</p>
<p>Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …kan!” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya . Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.</p>
<p>Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.</p>
<p>Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak.</p>
<p>Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.</p>
<p>Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut…”Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.</p>
<p>Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah..sayang ibu.”, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.</p>
<p>“Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti ?… Bagaimana Dita mau bermain nanti ?… Dita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi, ” katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi…, Namun…., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tersebut tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bagazpirlo.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bagazpirlo.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bagazpirlo.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bagazpirlo.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bagazpirlo.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bagazpirlo.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bagazpirlo.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bagazpirlo.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bagazpirlo.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bagazpirlo.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bagazpirlo.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bagazpirlo.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bagazpirlo.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bagazpirlo.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bagazpirlo.wordpress.com&amp;blog=10752884&amp;post=55&amp;subd=bagazpirlo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bagazpirlo.wordpress.com/2010/01/20/anak-mencoret-mobil-ayahnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3edaaa81652528dadf4ec3e8cbf57790?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bagazpirlo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bedain Air Mani dengan Madzi</title>
		<link>http://bagazpirlo.wordpress.com/2010/01/20/bedain-air-mani-dengan-madzi/</link>
		<comments>http://bagazpirlo.wordpress.com/2010/01/20/bedain-air-mani-dengan-madzi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 02:04:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bagazpirlo</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>
		<category><![CDATA[madzi]]></category>
		<category><![CDATA[mani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bagazpirlo.wordpress.com/2010/01/20/bedain-air-mani-dengan-madzi/</guid>
		<description><![CDATA[Air mani adalah lendir putih lagi kental yang keluar disebabkan karena syahwat, memuncrat ketika keluar, berakhir dengan kelemasan, serta memiliki bau yang menyerupai bau telor busuk. Sedangkan mani wanita berwarna encer kekuning – kuningan. Air mani adalah suci namun ia membatalkan wudhu. Madzi: Cairan tipis dan lengket, yang keluar ketika munculnya syahwat, baik ketika bermesraan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bagazpirlo.wordpress.com&amp;blog=10752884&amp;post=53&amp;subd=bagazpirlo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Air mani adalah lendir putih lagi kental yang keluar disebabkan karena syahwat, memuncrat ketika keluar, berakhir dengan kelemasan, serta memiliki bau yang menyerupai bau telor busuk. Sedangkan mani wanita berwarna encer kekuning – kuningan. Air mani adalah suci namun ia membatalkan wudhu.<br />
Madzi: Cairan tipis dan lengket, yang keluar ketika munculnya syahwat, baik ketika bermesraan dengan wanita, saat pendahuluan sebelum jima’, atau melihat dan mengkhayal sesuatu yang mengarah kepada jima’. Keluarnya tidak terpancar dan tubuh tidak menjadi lelah setelah mengeluarkannya. Terkadang keluarnya tidak terasa. Dia juga najis berdasarkan kesepakatan para ulama berdasarkan hadits Ali yang akan datang dimana beliau memerintahkan untuk mencucinya.<br />
 CARA MEMBERSIHKANNYA :<br />
bersuci diri dari air mani adalah dengan mandi junub</p>
<p>Bersuci dari madzi adalah dengan mencuci kemaluannya, baru kemudian berwudhu </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bagazpirlo.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bagazpirlo.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bagazpirlo.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bagazpirlo.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bagazpirlo.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bagazpirlo.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bagazpirlo.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bagazpirlo.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bagazpirlo.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bagazpirlo.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bagazpirlo.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bagazpirlo.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bagazpirlo.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bagazpirlo.wordpress.com/53/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bagazpirlo.wordpress.com&amp;blog=10752884&amp;post=53&amp;subd=bagazpirlo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bagazpirlo.wordpress.com/2010/01/20/bedain-air-mani-dengan-madzi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3edaaa81652528dadf4ec3e8cbf57790?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bagazpirlo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sifat Seseorang Dari Golongan Darah</title>
		<link>http://bagazpirlo.wordpress.com/2010/01/06/sifat-seseorang-dari-golongan-darah/</link>
		<comments>http://bagazpirlo.wordpress.com/2010/01/06/sifat-seseorang-dari-golongan-darah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 02:29:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bagazpirlo</dc:creator>
				<category><![CDATA[sifat dari gol darah]]></category>
		<category><![CDATA[darah]]></category>
		<category><![CDATA[karakter]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bagazpirlo.wordpress.com/2010/01/06/sifat-seseorang-dari-golongan-darah/</guid>
		<description><![CDATA[Golongan darah A Biasanya orang yang bergolongan darah A berkepala dingin, serius, sabar dan kalem atau cool, bahasa kerennya. Berkarakter tegas, bisa diandalkan dan dipercaya meski keras kepala. Sebelum melakukan sesuatu dipikirkan terlebih dulu dan direncanakan dengan matang. Mereka mengerjakan segalanya dengan sungguh-sungguh dan konsisten, berusaha membuat diri sewajar mungkin. Mereka bisa kelihatan menyendiri dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bagazpirlo.wordpress.com&amp;blog=10752884&amp;post=52&amp;subd=bagazpirlo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Golongan darah A<br />
Biasanya orang yang bergolongan darah A berkepala dingin, serius, sabar dan kalem atau cool, bahasa kerennya. Berkarakter tegas, bisa diandalkan dan dipercaya meski keras kepala. Sebelum melakukan sesuatu dipikirkan terlebih dulu dan direncanakan dengan matang.</p>
<p>Mereka mengerjakan segalanya dengan sungguh-sungguh dan konsisten, berusaha membuat diri sewajar mungkin. Mereka bisa kelihatan menyendiri dan jauh dari orang-orang. Mereka mencoba menekan perasaan mereka dan karena sering melakukannya jadi terlihat tegar kendati sebenarnya punya sisi yang lembek seperti gugup dan lain-lain sebagainya. Mereka cenderung keras terhadap orang-orang yang tak sependapat sehingga cenderung berada di sekitar orang-orang yang ber&#8217;temperamen&#8217; sama.</p>
<p>Golongan darah B<br />
Orang bergolongan darah B cenderung penasaran dan tertarik pada segalanya. Mereka juga cenderung punya terlalu banyak kegemaran dan hobi. Kalau sedang suka dengan sesuatu biasanya mereka menggebu-gebu tapi cepat juga bosan. Namun mereka bisa memilih mana yang lebih penting dari sekian banyak hal yang dikerjakannya. Mereka cenderung ingin jadi nomor satu dalam berbagai hal ketimbang hanya dianggap rata-rata. Tapi biasanya mereka cenderung melalaikan sesuatu jika terfokus dengan kesibukan yang lain. Dengan kata lain, mereka tak bisa mengerjakan sesuatu secara berbarengan.</p>
<p>Mereka dari luar terlihat cemerlang, riang, bersemangat dan antusias. Namun sebenarnya hal itu semua sama sekali berbeda dengan yang ada dalam diri mereka. Mereka bisa dikatakan sebagai orang yang tak ingin bergaul dengan banyak orang.</p>
<p>Golongan darah O<br />
Orang yang bergolongan darah O biasanya berperan dalam menciptakan gairah untuk suatu grup selain menciptakan eharmonisan di antara para anggota grup tersebut. Figur mereka terlihat sebagai orang yang menerima dan melaksanakan sesuatu dengan tenang.</p>
<p>Mereka pandai menutupi sesuatu sehingga kelihatan selalu riang, damai dan tak punya masalah sama sekali. Tapi kalau tak tahan, mereka pasti akan mencari tempat atau orang untuk curhat (tempat mengadu).</p>
<p>Mereka biasanya pemurah (baik hati), senang berbuat kebajikan dan tak segan-segan mengeluarkan uang untuk orang lain. Mereka sebenarnya keras kepala juga, dan secara rahasia punya pendapatnya sendiri tentang berbagai hal. Di lain pihak, mereka sangat fleksibel dan mudah menerima hal-hal baru.<br />
Mereka cenderung mudah dipengaruhi oleh orang lain, begitu juga yang mereka lihat dari TV. Terlihat berkepala dingin dan terpercaya tapi sering tergelincir dan membuat kesalahan besar karena kurang hati-hati. Tapi hal itu yang menyebabkan orang yang bergolongan darah O ini dicintai.</p>
<p>Golongan darah AB<br />
Orang bergolongan darah AB ini punya perasaan sensitif dan lembut. Mereka penuh perhatian dengan perasaan orang lain dan selalu menghadapi orang lain dengan kepedulian serta hati-hati.</p>
<p>Di samping itu mereka keras dengan diri sendiri, pun dengan orang-orang yang dekat dengannya. Mereka jadi cenderung kelihatan mempunyai dua kepribadian, sering menjadi orang yang sentimen dan memikirkan sesuatu terlalu dalam.<br />
Mereka punya banyak teman, tapi mereka butuh waktu untuk menyendiri untuk memikirkan persoalan-persoalan mereka.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bagazpirlo.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bagazpirlo.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bagazpirlo.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bagazpirlo.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bagazpirlo.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bagazpirlo.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bagazpirlo.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bagazpirlo.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bagazpirlo.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bagazpirlo.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bagazpirlo.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bagazpirlo.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bagazpirlo.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bagazpirlo.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bagazpirlo.wordpress.com&amp;blog=10752884&amp;post=52&amp;subd=bagazpirlo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bagazpirlo.wordpress.com/2010/01/06/sifat-seseorang-dari-golongan-darah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3edaaa81652528dadf4ec3e8cbf57790?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bagazpirlo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bob Sadino,,,,Jadilah Pengusaha jangan jadi Karyawan</title>
		<link>http://bagazpirlo.wordpress.com/2009/12/26/bob-sadinojadilah-pengusaha-jangan-jadi-karyawan/</link>
		<comments>http://bagazpirlo.wordpress.com/2009/12/26/bob-sadinojadilah-pengusaha-jangan-jadi-karyawan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Dec 2009 01:37:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bagazpirlo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips jadi Pengusaha]]></category>
		<category><![CDATA[bob sadino]]></category>
		<category><![CDATA[karyawan . pengusaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bagazpirlo.wordpress.com/2009/12/26/bob-sadinojadilah-pengusaha-jangan-jadi-karyawan/</guid>
		<description><![CDATA[Ajakan provokatif dilontarkan pengusaha kawakan, Bob Sadino, kepada para mahasiswa yang memadati sebuah forum di Universitas Indonesia, pekan lalu. ”Siapa saja yang ingin menjadi entrepreneur, keluarlah dari kampus setelah acara ini dan jangan kembali ke sini lagi,” ujarnya. Pengusaha yang sukses mengembangkan agrobisnis dan kini membangun apartemen itu adalah jebolan Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Bob [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bagazpirlo.wordpress.com&amp;blog=10752884&amp;post=51&amp;subd=bagazpirlo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ajakan provokatif dilontarkan pengusaha kawakan, Bob Sadino, kepada para mahasiswa yang memadati sebuah forum di Universitas Indonesia, pekan lalu. ”Siapa saja yang ingin menjadi entrepreneur, keluarlah dari kampus setelah acara ini dan jangan kembali ke sini lagi,” ujarnya.</p>
<p>Pengusaha yang sukses mengembangkan agrobisnis dan kini membangun apartemen itu adalah jebolan Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Bob (75) sempat menjadi sopir taksi dan kuli bangunan sebelum mengawali karier kewirausahaan dengan berdagang telur.</p>
<p>Provokasi Bob ”diimbangi” oleh Wahyu Saidi. Ia memperkenalkan diri sebagai ”tukang bakmi” yang mendapat gelar Dr, Ir, dan MSc dari Institut Teknologi Bandung dan dari Universitas Negeri Jakarta.</p>
<p>”Untuk memulai entrepreneurship, gelar kesarjanaan benar-benar tak berguna, justru sering negatif. Begitu mau menyebar brosur atau nggoreng makanan ngerasa diri sarjana. Itu bisa jadi awal kegagalan,” ujar Wahyu, yang membuka 410 gerai makanan di 30 kota dan 4 negara.</p>
<p>Menurut Wahyu, ilmu yang didapat di bangku kuliah baru berguna jika bisnis sudah berkembang. Misalnya, terkait tuntutan penguasaan manajemen, mekanisme kontrol, dan distribusi. Namun, tidak bersekolah juga bukan berarti tidak bisa belajar menguasai ilmu-ilmu ini.</p>
<p>Dalam forum diskusi ”Entrepreneurship Experiencing 2008”, Bob dan Wahyu membagi pengalaman mereka kepada para mahasiswa. Selain berdiskusi, dalam kegiatan dua hari itu juga diberikan simulasi bisnis. Para peserta dipinjami modal kerja&gt;w 9538mw 9738mw 9738mw 9438m&lt;ahasiswa Diploma Pajak UI angkatan 2006, menceritakan, ia mulai menjajakan makanan kecil di kampus pada satu semester terakhir. Namun, ia masih berharap menjadi pegawai, sebelum merasa siap total berbisnis.</p>
<p>Tak sedikit pula yang mengeluh sulit meyakinkan orangtua untuk merestui anaknya berbisnis sendiri, tidak menjadi pegawai atau karyawan.</p>
<p>”Kalau mau jadi entrepreneur, mulailah dari sekarang. Jangan berencana mulai setelah lulus kuliah. Apalagi, kalau Anda berusaha lulus dengan indeks prestasi tinggi, besar kemungkinan muncul harapan dan iming-iming untuk jadi pegawai,” ujar Wahyu.</p>
<p>Menurut Bob, sikap mental yang menjadi prasyarat utama menjadi pengusaha adalah tidak banyak berharap, menghilangkan rasa takut, dan mengubah pola pikir. ”Harus punya kemauan dan tekad kuat mengubah diri Anda, dari bagaimanapun adanya sekarang. Tekad yang kuat itu tidak cukup kalau tak ada keberanian mengambil peluang. Namun, Anda baru jadi entrepreneur kalau sudah terbukti tahan banting dan tidak cengeng,” paparnya.</p>
<p>Mendengar pertanyaan, komentar, dan keluhan para mahasiswa, Bob menilai, sangat kuat keinginan para mahasiswa untuk menemukan metode paling cepat, atau jalan pintas, agar sukses berbisnis.</p>
<p>Padahal, pengalaman bisnis puluhan tahun mengajarkan, tidak ada jalan pintas untuk mendapat untung besar. ”Kecuali Anda jadi koruptor, maling, atau jualan sabu.”</p>
<p>Pada usia senja, kesediaan Bob berkampanye mengajak mahasiswa menerjuni dunia kewirausahaan dilatari keprihatinan mendalam. Ia mengingatkan, jumlah pengusaha di negeri ini hanya 0,18 persen dari total penduduk. Padahal, di negeri sekecil Singapura, jumlah pengusahanya 7,2 persen dan perekonomiannya maju pesat. Sebaliknya, dengan segala sumber kekayaan alam Indonesia, penduduk negeri ini masih dijerat kemiskinan.</p>
<p>Para pengajar di sekolah formal turut andil ”melemahkan” semangat kewirausahaan. ”Saya pernah menyuruh anak saya yang masih SD berjualan mainan ke temen-temen-nya di sekolah. Eh, malah dilarang guru. Dari kecil, di sekolah, anak-anak dididik untuk membeli bukan menjual,” ujar Wahyu.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bagazpirlo.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bagazpirlo.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bagazpirlo.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bagazpirlo.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bagazpirlo.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bagazpirlo.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bagazpirlo.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bagazpirlo.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bagazpirlo.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bagazpirlo.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bagazpirlo.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bagazpirlo.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bagazpirlo.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bagazpirlo.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bagazpirlo.wordpress.com&amp;blog=10752884&amp;post=51&amp;subd=bagazpirlo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bagazpirlo.wordpress.com/2009/12/26/bob-sadinojadilah-pengusaha-jangan-jadi-karyawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3edaaa81652528dadf4ec3e8cbf57790?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bagazpirlo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;I will survive&#8221; saat sakaratul maut.!!!</title>
		<link>http://bagazpirlo.wordpress.com/2009/12/24/i-will-survive-saat-sakaratul-maut/</link>
		<comments>http://bagazpirlo.wordpress.com/2009/12/24/i-will-survive-saat-sakaratul-maut/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 03:29:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bagazpirlo</dc:creator>
				<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[sakaratul maut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bagazpirlo.wordpress.com/2009/12/24/i-will-survive-saat-sakaratul-maut/</guid>
		<description><![CDATA[Seorang pemuda Mesir, berusia sekitar 20 tahunan, sebut saja namanya Jamal, seperti pemuda kebanyakan di Mesir, Jamal memiliki gaya hidup yang sangat jauh berbeda dengan gaya hidup seorang muslim yang sebenarnya. Jangankan untuk sholat 5 waktu, untuk meninggalkan sholat jum’at saja sudah biasa bagi Jamal. Drugs, music, dan minuman beralkohol sudah menjadi bagian dari hidupnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bagazpirlo.wordpress.com&amp;blog=10752884&amp;post=50&amp;subd=bagazpirlo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang pemuda Mesir, berusia sekitar 20 tahunan, sebut saja namanya Jamal, seperti pemuda kebanyakan di Mesir, Jamal memiliki gaya hidup yang sangat jauh berbeda dengan gaya hidup seorang muslim yang sebenarnya. Jangankan untuk sholat 5 waktu, untuk meninggalkan sholat jum’at saja sudah biasa bagi Jamal. Drugs, music, dan minuman beralkohol sudah menjadi bagian dari hidupnya sehari-hari.</p>
<p>Belum lagi dengan fasilitas dan kemudahan-kemudahan yang di berikan oleh Orangtua Jamal yang memang tergolong orang berada di Cairo. Selain banyak tempat untuk menimba Ilmu, tempat-tempat kemaksiatanpun banyak di jumpai di Cairo. Kehidupan “malam” di Cairo tidak jauh berbeda dengan kehidupan “malam” di Jakarta. Mulai dari Bar, Diskotik, sampai tempat pelacuranpun terdapat disana. Hanya saja kondisinya tidak seterbuka di Indonesia. Setiap malam, Jamal tidak pernah absen untuk mengunjungi diskotik langganannya dengan mengendarai mobil sport miliknya (pemberian orangtuanya tentu saja). Sampai pada malam itu, menjelang dini hari saat Jamal baru pulang dari diskotik. Di dalam perjalanan, tape di mobil Jamal mendendangkan lagu kesayangan Jamal “I Will Survive”, sesekali Jamal juga berdendang kecil “I Will Survive, I Will Survive, Yeah Yeah..”</p>
<p>Hingga, terjadilah Kecelakaan pada malam itu, sesampainya di Rumah Sakit, berkumpulah keluarga Jamal untuk mendampinginya. Salah satunya adalah Akhi Yasir, Sepupu Jamal, Melihat kondisi Jamal yang sudah berada di ambang sakaratul maut, akhi Yasir membisikan di telinga Jamal “ Say Laailaahaillallaah, remember Allah, ya akhi..” Sampai beberapa kali Akhi Yasir mengulangi kalimat tersebut, dan dengan nafas terakhirnya Jamal mengucapkan sesuatu dengan lirih, “I Will Survive, I Will Survive, Yeah Yeah..” </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bagazpirlo.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bagazpirlo.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bagazpirlo.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bagazpirlo.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/bagazpirlo.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/bagazpirlo.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/bagazpirlo.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/bagazpirlo.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bagazpirlo.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bagazpirlo.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bagazpirlo.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bagazpirlo.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bagazpirlo.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bagazpirlo.wordpress.com/50/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bagazpirlo.wordpress.com&amp;blog=10752884&amp;post=50&amp;subd=bagazpirlo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bagazpirlo.wordpress.com/2009/12/24/i-will-survive-saat-sakaratul-maut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3edaaa81652528dadf4ec3e8cbf57790?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bagazpirlo</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
